Top Social

Featured Posts Slider

Image Slider

Rabu, 21 Februari 2018

HAKEKAT BASMALAH PADA AKU (DIRI) DAN ALAM - TETESAN 1


PREAMBULE - Tafsiran Basmalah

Dalam kitab-kitab tafsir mu'tabarah, basmalah (singkatan dari Bismillahirrahmanirrahim) secara panjang dibahas aspek fikihnya.

Dalam kitab-kitab tafsir mu'tabarah, basmalah (singkatan dari Bismillahirrahmanirrahim) secara panjang dibahas aspek fikihnya. Apakah itu menjadi bagian dari Surah Al-Fatihah atau bukan?

Bagaimana hukum membaca atau tidak membacanya? Apakah harus dibaca keras (jahr) atau sunyi di dalam shalat bersama ayat-ayat lainnya atau cukup dibaca dalam hati, atau boleh sama sekali tidak dibaca karena dianggap bukan bagian Surah Al-Fatihah?

Namun, di dalam kitab-kitab tafsir sufi (isyari) basmalah tidak ditonjolkan aspek fikihnya melainkan aspek spiritualnya.

Para sufi memang jarang menafsirkan Alquran secara tahlili sebagaimana halnya ulama-ulama fikih. Ulama tasawuf membahas secara tematis dan terperinci ayat-ayat yang masuk kategori ayat tasawuf.

Salah satu ayat yang mempunyai porsi pembahasan luas ialah basmalah. Bagi para sufi, pembahasan basmalah diurai secara panjang dan lebih menekankan aspek dan makna spiritual di dalamnya.

Sejumlah tafsir Syi'ah membahas ta'awwuz (A'udzu bi Allah min al-syaithan al-rajim) dan basmalah di dalam satu jilid tersendiri karena sedemikian dalam makna dan kandungan kedua kalimat tersebut.

Selasa, 13 Februari 2018

tasawuf-1


orang yang mengenal Allah dan jalan mahabbah tanpa disertai rasa takut, maka ia akan hancur dengan kegembiraan dan kesenangan. Orang yang mengenal Allah tanpa mengetahui jalannya, ia akan menyimpang dan bertambah jauh dari-Nya. Dan orang yang mengenal Allah melalui jalan keduanya (ma’rifah dan suluk), maka Allah akan mencintainya, mendekatinya, memuliakannya, dan menunjukinya [jalan menuju ke sisi-Nya.

Ketika Abdullah bin Malik bertanya kepadanya, 
“Bagaimana cara keluar dari persoalan yang membelit?” 
Ia menjawab dengan sebuah pertanyaan, 
“Coba jawab, apakah orang yang taat kepada Allah Ta ‘ala dicelakakan oleh kemaksiatan seseorang?”
“Tidak,” jawab Abdullah.
“Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah akan mendapat manfaat dari ketaatan seseorang?” tanyanya lagi.
“Tidak,” Abdullah kembali menjawab.
“Itulah jalan keluar, kalau memang engkau mau,” lanjut Fudhail. 

Lalu ia membaca ayat,
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni (bersih dari syirik). ” (QS. az-Zumar: 2-3)

--FUDHAIL BIN ‘IYADH

menjadi orang yang do’anya dikabulkan


Ini cerita Sa’ad bin Abi Waqqash saat bertutur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, 

“Berdo’alah kepada Allah agar aku menjadi orang yang do’anya dikabulkan.” 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, 
“Hai Sa’ad, bersihkanlah makananmu, niscaya do’amu dikabulkan. Demi Allah Yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya seseorang manakala memasukkan ke dalam dirinya makanan haram, maka ibadahnya ditolak selama empat puluh hari. Dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba, maka neraka paling layak baginya.” 

Beliau juga bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima, kecuali yang baik.”