PREAMBULE - Tafsiran Basmalah
Dalam kitab-kitab tafsir mu'tabarah, basmalah (singkatan dari Bismillahirrahmanirrahim) secara panjang dibahas aspek fikihnya.
Dalam kitab-kitab tafsir mu'tabarah, basmalah (singkatan dari Bismillahirrahmanirrahim) secara panjang dibahas aspek fikihnya. Apakah itu menjadi bagian dari Surah Al-Fatihah atau bukan?
Bagaimana hukum membaca atau tidak membacanya? Apakah harus dibaca keras (jahr) atau sunyi di dalam shalat bersama ayat-ayat lainnya atau cukup dibaca dalam hati, atau boleh sama sekali tidak dibaca karena dianggap bukan bagian Surah Al-Fatihah?
Namun, di dalam kitab-kitab tafsir sufi (isyari) basmalah tidak ditonjolkan aspek fikihnya melainkan aspek spiritualnya.
Para sufi memang jarang menafsirkan Alquran secara tahlili sebagaimana halnya ulama-ulama fikih. Ulama tasawuf membahas secara tematis dan terperinci ayat-ayat yang masuk kategori ayat tasawuf.
Salah satu ayat yang mempunyai porsi pembahasan luas ialah basmalah. Bagi para sufi, pembahasan basmalah diurai secara panjang dan lebih menekankan aspek dan makna spiritual di dalamnya.
Sejumlah tafsir Syi'ah membahas ta'awwuz (A'udzu bi Allah min al-syaithan al-rajim) dan basmalah di dalam satu jilid tersendiri karena sedemikian dalam makna dan kandungan kedua kalimat tersebut.




